Pemutusan Hubungan Kerja Sepihak

Pertanyaan:

“mohon advice, saya baru saya mengalami kasus dgn perusahaan dimana saya telah bekerja selama 13 thn, tgl 31 des 2013 lalu tiba2 saya di berikan SP3 tanpa terlebih dahulu diberikan peringatan, SP1, dan SP2, dan alasan2 yg di pergunakan dlm SP3 tersebut agak kurang masuk akal dan tidak ada bukti konkrit. Salah satu pasal dlm SP3 tersebut menyebutkan karena saya melakukan kesalahan2 yg disebutkan tersebut maka saya dikualifikasikan sbg karyawan yang mengundurkan diri. agak seperti dipaksakan sekali, karena jika mengacu pada pasal aturan perusahaan (pasal 48 yg bunyinya: “pekerja yang mangkir 5(lima) hari kerja berturut-turut dan telah di panggil 2 (dua) kali secara patut dan tertulis tanpa didukung oleh bukti-bukti yang sah dikualifikasikan mengundurkan diri”) maka tidak ada satu syarat pun sesuai dgn pasal tersbut yang dapat menkualifikasikan saya sbg pelanggar, tidak ada 5 hari berturut2 saya mangkir dan tidak pernah sekalipun saya dipanggil karena masalah ini. Dlm SP3 tersebut ada pasal yang menyebutkan bahwa SP3 ini berlaku hingga 29 september 2014. tetapi anehnya tgl 2 januari 2014, saya di informasikan bahwa itu adalaj hari terakhhir saya karena dianggap mengundurkan diri. hanya 2 hari setelah saya diberikan SP3 tsb. jadi saya merasa perusahaan sgt memaksakan pengunduran diri saya karena dgn begini perusahaan tdk perlu memberikan pesangon yg besar, sedangkan jika melakukan PHK maka pesangonnya akan sangat besar mengingagt gaji saya cukup tinggi. bahkan surat pengunduran diri perusahaan sdh membuatnya dan memaksa saya utk menandatangganinya. yang saya ingin tanyakan, apakah hal diatas ini bisa menjadi kasus hukum yang dapat saya perkarakan terhadap perusahaan? jika benar apakah saya bisa mendapatkan bantuan hukum? karena jika hal ini seharusnya menjadi PHK sepihak maka peusahaan hrs membayar saya senilai lebih dari 500jt rupiah.”

Jawaban Kami: Read the rest of this entry »

, , , , , , , , ,

No Comments

Upah Tidak Sesuai Yang Tertulis di Perjanjian Kontrak Kerja

“tolong pendapat dan masukan dari Bapak atau Ibu, saya sudah tanda tangan kontrak kerja pada perusahaan PT. X, dengan nilai salary yang telah di tentukan di kontrak kerja dan telah di tandatangani diatas materai oleh Project Manager…Namun setelah kurang dari 1 minggu terjadi pergantian Project Manager, lalu ketika saya menerima gaji pada bulan pertama, ternyata jumlah salary yg di bayarkan TIDAK sesuai dengan isi dalam kontrak, ketika sy tanyakan pada Project manager yang baru, dia memberikan alasan yg berbelit belit tidak masuk akal…tolong bantuan masukan pendapat dari rekan-rekan sekalian…”

Jawaban Kami: Read the rest of this entry »

, , , , , ,

No Comments

Apakah Boleh Dilakukan PPJB Secara Bertingkat?

Pertanyaan:

“Apakah boleh dilakukan Pengikatan Jual Beli secara bertingkat? jika dilarang bagaimana solusinya?”

 

Jawaban Kami: Read the rest of this entry »

, , , , , ,

No Comments

Penyelesaian Pembagian Harta Pailit Kreditor dalam Kepailitan

Pertanyaan:

“Selamat siang. Saya ingin bertanya perihal Hukum Kepailitan. Yang kita ketahui ada beberapa macam golongan kreditor dalam hukum kepailitan, ada yang mendapatkan hak istimewa dan ada yang tidak, dan hak – hak mereka berbeda pula, jelas bahwa kreditor yang memiliki hak istimewa adalah kreditor yang diprioritaskan dalam mendapatkan sisa harta pailit. Di sini saya ingin bertanya beberapa poin, diantaranya:

1. Bagaimana penyelesaian pembagian sisa harta pailit kreditor konkuren berdasarkan Undang – undang dan praktek nya dalam Pengadilan Niaga

2. Apakah pemberesan harta pailit kepada kreditor konkuren berbeda jelas dengan pemberesan harta pailit kepada kreditor yang memiliki hak istimewa (kreditor separatis dan kreditor preferen), bagaimana perbedannya itu

3. Siapa yang berwenang melakukan pemberesan harta pailit?

Terimakasih”

 

Jawaban Kami: Read the rest of this entry »

, , , , ,

No Comments

Permasalahan Tanah Warisan

Pertanyaan:

“Mohon masukan dan Saran apa yang harus keluarga saya lauk an untuk kasur berikutnya , Bapak saya mempunyai sebidang tanah, dimana tanah itu adalah tanah peninggalan almarhum nenek saya yang dibuktikan lewat sertifikat hak milik dan Hali waris, nah yang jadi permasalahan di Sebagian tanah itu ada saudara sepupu Bapak yang membangun rumah permanen di atasnya, padahal mereka bukan ahli waris dan tidak ada pembuktian hitam di atas putih untuk ijin mendirikan bangunan permanen, Bapak saya Marah atas dasar apa membangun di atas tanah miliknya padahal status meerkats cuma menumpang, kata mereka nenek saya sdh memberikan tanah itu!, tapi tidak ada bukti yang bisa mereka tunjukkan, malah Semarang mereka semakin Berulah dengan berkebun dan menambah bangunan rumah nya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Bapak saya, kami sebagai anak sangat resah dengan ulah mereka! Bapak saya ingin mengusir mereka tapi mereka terus beer tahan dengan alasan sudah diberikan oleh nenek saya, bapak sy sempat melapor ke Pak lurah, tapi tindakan mereka semakin menjadi, mohon bantuannya cara apa yang harus kami lakukan untuk menghentikan tindakan mereka dan biar mereka tidak menetap di tanah kami, karena secara moril kami sangat kesal dengan tindakan mereka yang seperti tidak menghargai Bapak saya sebagai pemilik sah tanah tersebut.mohon bantuannya, terima kasih”

Jawaban kami: Read the rest of this entry »

, , , , , ,

No Comments

Masalah Perceraian

“saya mau tanya, bagaimana jika seorang suami lebih memilih keluar rumah, tidak bertanggung jawab pada anak dan istri, yang dilakukan hanya KDRT, permintaan cerai dan penghinaan secara psikis. apa yang hrs dilakukan sdngkan biaya untuk perceraian tdk sesuai dengan anggaran yang ada. apakh hrs berdiam diri atau bisa lwt LBH. Thanks.”

Jawaban Kami:
Read the rest of this entry »

, ,

No Comments

Permasalahan Waktu Kerja

Pertanyaan:

“Saya ingin sedikit mengenai bertanya bagaimana cara saya memprotes jam kerja yang diberikan kepada pekerja? Sebagai informasi, saya bekerja sebagai supporting staff di sebuah bank negeri. Saya bekerja 5 hari dalam 1 minggu.Waktu masuk kerja adalah pukul 7.15 pagi. Diikuti dengan waktu istirahat dari pukul 12 sampai 1 siang. Staff biasa akan selesai waktu kerjanya pada pukul 5.00 sore, namun, unit saya diharuskan bekerja kembali hingga waktu yang sulit ditentukan dan biasanya akan sampai lewat maghrib ataupun malam. Tidak ada waktu istirahat kedua setelah pukul 5.00, namun diberikan waktu untuk beribadah dan makan pada waktu maghrib. Kadang kala saya diharuskan bekerja sampai pukul 8 ataupun 9 malam. Benar bahwa saya mendapat upah lembur.

Permasalahannya: Jam kerja yang diberikan kepada saya adalah 8 jam/hari, dan 5 hari/minggu, dari Senin sampai Jum’at, namun tidak jarang saya diwajibkan untuk datang kerja pada hari Sabtu; Meskipun saya menerima upah lembur dengan bekerja melebihi waktu yang ditentukan oleh Pasal 77, saya tidak diberi opsi untuk memilih menghindari atau menolak lembur, yang di mana saya diharuskan lembur hampir setiap hari kerja saya; Ini tentu bertentangan dengan “ada persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan” pada Pasal 78 ayat (1); Alasan diwajibkannya saya untuk bekerja lembur sampai malam hari, ataupun bekerja pada hari Sabtu dalam minggu-minggu tertentu adalah jumlah pekerjaan yang menumpuk yang harus segera diselesaikan, dengan jumlah anggota unit tempat saya bekerja yang terhitung sedikit; Kurangnya staff juga diperburuk dengan semenjak hari ini,Senin tanggal 12 November 2012, dua orang staff dari unit tempat saya bekerja akan dipindahkan ke unit/kantor cabang lainnya; Setelah selesai waktu istirahat dari jam 1.00 siang, tidak ada waktu istirahat hingga maghrib yang biasanya datang pada pukul 6.30 sore di Medan. Ini sudah melebihi 4 jam kerja terus menerus sesuai dengan isi Pasal 79; Dan bila dilakukan peninjauan ke Pasal 80, saya sebagai orang yang beragama Islam, tidak mendapat waktu beribadah sholat Ashar, karena tidak ada waktu istirahat dari pukul 1.00 siang (waktu sholat Dzuhur), sampai waktu sholat Maghrib. Apakah solusi yang dapat saya lakukan untuk mendapat hak-hak yang seharusnya saya dapatkan dalam berkomimen kerja? Apakah saya dapat menggugat untuk lebih diperhatikan hak-haknya, terutama opsi dalam menolak atau menerima kerja lembur dan juga waktu beribadah? Terima kasih sebelumnya atas waktu yang diberikan”.

Jawaban Kami: Read the rest of this entry »

, , ,

No Comments